Thursday, August 16, 2007

Rabu, 15 Agustus 2007, di delapan malam

Malam itu, pintu kamarku diketuk. tak seperti biasanya, aku mendapat tamu yang tak membuat janji bertemu.
Penasaran sekaligus bimbang kubuka perlahan sambil berharap bukan hal buruk yang datang.
Dan, kulihat ia berdiri tegak dibalik pintu. Wajah yang selama ini kurindukan.
Dia kembali, aku tak percaya. Seluruh darahku berdesir, jantungku berdegup kencang, dan tubuhku membeku.
dia tak banyak berubah, selain terlihat makin matang
tubuhnya masih tegap, namun sedikit menghitam
wajahnya masih menawan, hanya tampak lebih keras,
dia tersenyum, masih seperti dulu dengan bibir penuh yang selalu dia keluhkan,
dengan kaus putih dan jeans belel ciri khasnya,
kemudian dia membuka tangannya, aku masih terpaku
dia memelukku erat aku masih mematung
dia hangat, dia nyata, dia kembali
Dan aku menangis, hingga tersengguk
aku bahagia, sangat bahagia dia kembali
kemudian tangisku tertahan
aku kehabisan nafas, berusaha berteriak, memanggil, aku tersedak, lantas terbangun
aku kian meratap, aku cuma bermimpi, mimpi dia kembali
15 agustus 2007, dia menepati janjinya, janji lima tahun lalu.
lima bulan setelah kepergiannya dia berjanji, dan malam ini dia berusaha menepatinya
walau dalam mimpi, seperti ketika dia beranjak pergi.

dear love, i let you go

Tuesday, August 14, 2007

dewa kecilku


kepala plontos menjadi ciri khasnya
gaya cuek namun sensitif itulah dia
banyak sudah kenanganku tentangnya
sejak dia ada, hidupku berwarna
masih hafal dikepalaku semua yang ada tentangnya
kebiasannya menggosokkan kepala ketika mengantuk
atau memerahnya seluruh wajahnya ketika rasa mulas menyerangnya, "persis si moky" itu kataku dengan senyuman yang tak pernah lepas.
kucermati dan selalu kunikmati mengamatimu setiap hari
kadang kau tergagap, atau berceloteh tak tentu, menarik perhatianku
tak pernah bisa kutolak permintaanmu, bahkan meski itu terlalu sulit diwujudkan
kau selalu tahu kelemahanku, meminta dengan wajah memelas dan tersenyum, dan aku lantas luluh
kau selalu tahu caranya menyenangkanku, cukup mengecup pipi dan mengatakan aku sayang sekali sama kamu, maka tertawalah aku
hariku yang kelabu kau ubah berwarna setiap saat, dengan celotehanmu yang rasanya tak pernah ada habisnya itu
kadang aku bosan juga, dan memohon padamu untuk menghentikannya. namun dengan nakalnya dia akan sengaja terus berceloteh panjang, menyanyi, bersenandung atau apapun juga. rasanya kau hanya diam saat tidur. saat yang selalu kutunggu untuk menyaksikan kedamaian wajahmu, dan membuatku tersenyum tanpa henti. dan membuatku tertarik menganggumu.
saat kau sakit, seisi rumah seolah ikut sakit. karena kau hanya diam dan sesekali menangis serta mengeluhkan sakitmu, membuat kami tak berdaya
tak bisa kubayangkan hidup kita tanpamu
kau pelipur laraku, penyemangatku, pelita hidupku.
kau dewa kecilku :D



Wednesday, August 01, 2007

NN

aku bukan hanya duri dalam dagingmu
tapi aku benci dalam cintamu
aku marah dalam tenangmu
aku duka dalam sukamu
aku tangis dalam tawamu
aku laknat dalam pahalamu
aku neraka dalam surgamu
aku hitam dalam putihmu
aku gelap dalam terangmu
aku munafik dalam setiamu
jika cinta adalah cinta
dan jika cinta adalah dusta
namun cinta hanyalah mimpi


Yang,.....
mungkin itu namaku
dalam pekikan ceritamu
menelusup diantara goa permainan
berdinding gelak yang kau tawarkan
dengan gerbang gema ketiadaan
Yang,....
jika aku adalah kelelawar
kubutakan kau dengan nyalang mataku
kuincar kau dengan hidung
kujerat kau dengan kuku tajamku
kusesatkan kau dengan kepak kokohku
namun aku hanyalah Yang,.........
tergoyah lunglai dalam bisikmu
tergopoh runtuh dalam pekikmu
terjejak mati dalam langkahmu


panggil aku pelacur
diantara perempuan jalang yang terpajang
dengan rok mini dan gincu menyala
berbaris dingin menanti datangmu
datanglah kau raga yang rindu akan hangat tanpa rasa
aku siap menghisap hingga musnah madumu
aku siap merengkuh hingga puas birahimu
aku siap menengadah menghampiri nafsumu
kau tak perlu merayuku
kau tak perlu menatapku
kau tak perlu membelaiku
kau tak perlu mengecupku
kau tak perlu mencintaku
karena aku pelacurmu

Monday, July 30, 2007

Dalam dekapanmu..................

tubuhku hangat hingga hatiku
ragaku luluh hingga jiwaku
saat berada dalam dekapanmu
kubiarkan kau menekuri seluruh tubuhku
kubiarkan kau mengusap seluruh tubuhku
menuntaskan kerinduanmu
aku terpejam
tak hanya menikmati usapanmu
tak hanya melayang pada kisah kita dulu
ketika kita berbicara hingga malam tiba
ketika kita tidur dalam ranjang kecil itu
ketika kita berjalan bersama
ketika aku meninggalkanmu pertama kalinya
ada gurat kekecewaan disana
ada titik kesedihan disana
namun kau tak sanggup menahan
dan hanya memandangku dengan wajah sendumu
aku diam,
bukan marah,
bukan tak kecewa
hanya menahan tangis
hanya menahan rindu
dalam diamku
dalam pejamku
seperti yang kulakukan malam ini
agar tak lagi menambah bebanmu bunda

Luv u forever

Wednesday, July 18, 2007

Terimakasih Kau selamatkan aku dan keluargaku

Pagi itu, seluruh badanku rasanya sudah hampir remuk, setelah selama dua hari kemping di pulau seribu yang ternyata tidak seindah yang kubayangkan. Masih terbayang perjalanan selama dua setengah jam diatas laut yang mengombang ambing kapal kayu yang aku naiki.
Perjalanan pulang diatas kapal yang nyaris terbalik itu, membuat aku berpikir dan berdoa selama perjalanan. Tuhan, jangan ambil nyawaku saat ini, karena masih banyak kesalahan dan kewajiban yang harus kujalani saat ini.
Langsung terbayang wajah keluargaku satu persatu, dan aku bertekad tak bisa mati hari ini karena mereka tak boleh menderita. Aku tak takut mati untuk diriku sendiri, namun aku takut untuk meninggalkan keluargaku.
Mungkin Tuhan mendengar doaku. Perjalanan mencekam itupun berakhir pula, dengan sisa-sisa wajah pucat seluruh penumpang dikapal yang bau amis dan sesak penumpang itu.
Terimakasih Tuhan, hari ini Kau selamatkan nyawaku, demi keluargaku aku bersyukur padamu.

Perjalanan yang hampir merenggut nyawa ku itu, belum lagi selesai kusyukuri. Tiba-tiba ketika mataku masih terpejam suara sms masuk, didalamnya tertulis, aku harus menghubungi rumah karena masalah penting.
Hughhhh tiba-tiba dadaku terasa seperti ditimpa atap diatas kamarku.
Imam, Adikku yang selama ini selalu rajin kumanja, kumarahi, dan bahkan kuperintahkan tabrakan? Langsung terlintas beragam pikiran buruk yang terjadi pada dirinya. Aku tiba-tiba tidak bisa bernafas, dan tidak bisa berkata hingga Ena, adik perempuan pertamaku, berteriak memanggil menyadarkan kesunyianku.
Dia berkata, adikku Imam mengalami kecelakaan di daerah Serpong sejak malam tadi, dan sekarang tengah berada di tempat pijat tulang yang entah dimana keberadaanya, mereka belum tahu pasti.
Aku lemas, tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Langsung kurebahkan kepala dan tubuhku diatas kasur lantai yang menjadi teman tidurku selama beberapa bulan belakangan ini. kuraih minyak kayu putih disamping tubuhku, dan langsung kubaluri seluruh tubuhku sambil tak terasa air mata terus mengalir. Aku menangis tanpa suara.
Sekuat hati dan tubuh kuangkat tubuhku untuk mandi dan bersiap pergi, aku bertekad untuk pulang hari ini. sepanjang perjalanan, hati dan pikiranku tak menentu. Tak henti ku hubungi teman adikku yang saat itu menemaninya.
Aku marah dalam tangisku, karena mereka tak memberikan keterangan yang jelas. Bahkan mereka memberitahu sampai sekarang kondisi adikku belum juga mendapatkan perawatan. Aku berteriak “tolong bantu adikku, dan jangan takut tidak aku bayar nanti,” rasanya hanya dengan kemarahan itulah aku bisa melepaskan sesaknya dada ini.
Sampai dirumah kudapati keadaan menegang. Mama, hanya mampu menangis saat memelukku. Dan aku sudah tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan.
Perjalanan ayah, kakak, dan tetanggaku menjemput adikku yang ternyata dibawa ke wilayah bogor yang entah kutahu dimana rasanya seperti setahun. Sejak pukul 10 pagi mereka pergi, akhirnya mereka baru kembali pukul 02 siang.
Aku yang tengah cemas menantikan kedatangan mereka, langsung terbangun ketika kudengar suara mobil memasuki pekarangan rumah. Dari kaca mobil kulihat wajah adikku yang pucat. Oh Tuhan, aku menjerit dalam hati, terimakasih Kau telah selamatkan adikku.
Dalam bopongan kakak dan ayahku, kulihat dia meringis menahan sakit karena retaknya tulang telapak kakinya, begitu menurut keterangan ayahku. Aku Cuma bisa melihat wajahnya yang seolah takut menatapku mungkin karena rasa bersalahnya.
Aku diam, dan kemudian menangis sambil mengelus kepala dan wajahnya. Bahkan aku tidak ingin mengeluarkan sepatah katapun. Aku bersyukur kamu selamat, hanya itu ucapku dalam hati.
Saat itu kusadari, betapa aku tidak akan sanggup kehilangan dia. Meski dia sering merajuk, menjengkelkan, dan bahkan membuatku menangis karena marah, namun aku tetap tak ingin kehilangannya. Tidak untuk kapanpun.
Tuhan, dua kali kau hindarkan aku dan adikku dari maut. Terimakasih atas semua anugerahmu selama ini. Meski dalam alpaku Kau masih menyayangiku. Ampunkan aku dalam semua kesalahanku. Tuhan, lindungi aku, ayah, ibu, adik-adik, dan kakak-kakaku hingga aku bisa menepati janjiku membahagiakan mereka.

Tuhan terimakasih untuk segalanya.

Tuesday, July 17, 2007

ufffhhhh











maaf
jika selama ini kuselalu membebanimu, menyakitimu,menjengkelkanmu, bahkan mempermalukanmu
kalau saja semua bisa kuulang
kuharap tak pernah hadir dalam hidupmu
agar hidupmu tak pernah ada airmata,
penderitaan, ketakutan, dan rasa bersalah karena diriku
kalau saja......

rasanya biasa
ketika kau singgah
saat butuh teman bicara
ataupun butuh hangat dalam dinginnya malam
dan semua biasa
ketika kau pergi
saat ceria hidupmu kembali
ataupun tak lagi ada sedih dihatimu
bagiku biasa
ketika kau datang dan pergi
entah dalam bisik ataupun dalam kesunyian
namun kini tak lagi biasa
ketika ucapmu menggores hati
dan itu terlalu dalam
aku ingin terbiasa,
namun itu tak lagi biasa
kini hatiku bagai pantai
yang sebentar mengering
dan kemudian basah kembali
oleh luka ombakmu

aku masih ingat,.....
ketika harus setia menunggu disetiap tempat janji pertemuan kita
ketika panas menyengatku saat menantimu disebuah halte,
ketika gerimis membasahiku saat menantimu disebuah mall,
bahkan ketika hujan deras mengguyurku saat harus menjemputmu
semuanya tak kuhiraukan
aku tetap menunggu, entah kenapa
mungkin kau tak pernah ingat,..........
ketika aku dengan ikhlas, rela kau tinggalkan ditepi jalan,
hanya karena takut kau terkena panas,gerimis, dan hujan yang tak pernah kugubris kedatangannya
mungkin kau tak pernah tahu,...
ketika aku rela menanggalkan kebutuhan dan keinginanku
sekedar untuk menyenangkanmu
mungkin kau tak pernah sadar,....
ketika seringku berdusta menghalau nyeri, lelah, malas, dan kesibukanku untuk setia padamu
namun,...
aku tak menyesalinya
tak akan pernah menyesal
bahkan jika itu harus ku ulang seribu kali lagi

dulu,
kupikir kita dekat
kupikir kumengenalmu
setelah sekian lama kita bertemu
tapi ternyata aku salah.....
namun aku mengerti
sangat mengerti bahkan
karena itulah aku pergi
karena aku sangat mengerti

hujan datang lagi
namun kini sangat deras
bukan gerimis,
yang biasanya kunikmati
ia tak hanya membasahiku
namun menenggelamkanku
dalam kesendirian
dalam kesakitan
dalam kedinginan
dalam penantian
menuju hujan badai

aku tak ingin lagi
malam membiarkanku menghitung bintangnya
aku tak ingin lagi
siang membiarkanku tersengat mentarinya
dan aku tak ingin lagi
kau biarkan aku kembali mengganggu hidupmu
karena aku tak ingin lagi
hanya tak ingin lagi
bisakah????

langit gelap,
awan hitam
bintang kelip,
aku diam
kamu diam
kalian diam
dan pagipun datang

Friday, July 13, 2007

Maaf

Akhirnya kusadari
bahwa yang peduli hanya kalian
keluarga yang mungkin selama ini masih sering kuabaikan
sedangkan mereka,
hanya datang disaat butuh, tanpa peduli kapan dibutuhkan
yah, kamu, kamu, dan kamu semua
yang membuat semua pengorbananku seolah sia-sia
yang membuat letih dan keringatku seolah sebuah keharusan
aku tak berpamrih,
hanya berharap waktu, keringat, dan usahaku kalian hargai
bukan dengan materi, perhatian, sayang, cinta atau apapun istilahnya itu
aku hanya berharap, kamu, kamu, dan kamu semuanya bisa menghargaiku
seperti kamu, kamu dan kamu semua menghargai orang lain.
biarlah semua hal yang telah lewat menjadi bagian dari hidupku
menjadi garis yang membuatku bahagia,
bisa sedikit memberi kebahagiaan pada kamu, kamu, dan kamu semuanya
namun kini,
saatnya bagi diriku menjalani hidup,
mencari kebahagiaan diantara penderitaan
mencari tawa diantara tangis
dengan jalanku sendiri, dengan caraku sendiri
tanpa bantuanmu, tanpa membebani kamu, kamu dan kamu semuanya
kalau hari kemarin kubanyak membebani kamu, kamu dan kamu semuanya
saatnya kumelepaskan beban kamu, kamu dan kamu semuanya
maaf atas semua beban dan penderitaan kamu, kamu dan kamu semuanya
karena keegoisanku,
kekanakanku,
kemarahanku
dan segala keburukanku

Monday, July 09, 2007

Aku tetap bahagia karena mereka

Lebih dari sebulan usai ulang tahunku, ternyata masih ada satu kado istimewa yang aku terima hari ini. Selembar kertas usang kutemukan diantara tumpukan pakaianku dilemari
sekilas langsung kukenali bahwa itu adalah tulisan papa. Karena hanya dia yang mungkin dijaman serba modern ini masih menggoreskan tulisannya dengan menggunakan mesin ketik tuanya.

sebaris kubaca isinya, langsung tak bisa kutahan air mataku. kuputuskan untuk menutup kembali selembar kertas itu, dan membatalkan niatku membacanya. rasa malu menangis dihadapan keluargaku, masih besar kurasakan sampai saat ini. Karena aku tak ingin mereka bersedih atau kepikiran melihat aku sedih nantinya.
yah akhirnya kulipat rapat-rapat kertas yang sudah hampir kusut itu, dan menyimpannya baik-baik didalam tas merahku.
saat didalam bus perjalanan ke tempat kerja, akhirnya kuberanikan diri membuka kembali surat itu. baris demi baris kubaca, hingga tuntas. dan hampir disetiap baris kutak bisa menahan air mataku.
goresan tangan ayah yang selama ini membimbingku, membesarkanku, dan mencintaiku sepenuh hati, mampu meremukkan hatiku dalam sekejap.
kata-katanya seperti biasa, sederhana khas tulisannya selama ini. kekhas-an yang dia turunkan padaku saat ini.
dia mengeluhkan tentang sulitnya membahagiakan kami, dan juga aku anak-anaknya. betapa menyesalnya dia tak bisa membuatku bahagia selama ini. Tapi jujur, aku tak pernah merasakan menderita seperti yang dia perkirakan. aku bahagia, dengan diriku, keluargaku dan kehidupanku selama ini. tidak pernah sedikitpun aku merasa miskin materi ataupun kebahagiaan ditengah keluargaku selama ini.
Jika saja aku dihadapkan dalam sebuah pilihan, ingin seperti apa kehidupanku sebelumnya? maka aku akan memilih kehidupan yang telah aku jalani selama ini. karena apapun yang aku dapatkan selama ini, baik kebahagiaan dan kesedihan semua mampu kunikmati hingga ke ujung pori-poriku.
aku bahagia, dan sangat bahagia dengan mereka, bahkan hingga akhir hidupku aku akan terus bahagia bersama mereka. karena hanya karena merekalah aku mampu bertahan dan berjuang seperti saat ini......


Kado buat anak ketigaku

sumpah!
aku tersentak dan tertegun
ketika kutahu umur anakku sudah 28 tahun
padahal
masih segar dalam ingatanku
ketika tangan kecilnya masih menggapai
suaranya masih terngiang cadel dan tidak jelas
aku bercanda, aku tertawa
ketika kulihat tingkah lucunya

sumpah!
aku kaget dan terharu
ketika kusadar aku telah tua dan tak berdaya
sebab hari ini
selasa 29 mei 1979
engkau genap berusia 28 tahun
engkau tapaki kehidupan dengan tabah
engkau jalani karirmu dengan sepenuh hati
dan,
aku cuma bisa menatap dan mendoakanmu
dan,
aku tidak bisa memberikan hadiah apa-apa

sumpah!
aku terhenyak campur gembira
dalam usianya yang kuanggap mapan itu
engkau mampu meneruskan keinginanku
padahal jika aku ingat
betapa miskin dan menderita kehidupan remajanya dulu
sementara aku cuma bisa bekerja dan berdoa waktu itu
dan aku percaya
Allah akan memberikanmu sebuah kegembiraan
dan aku percaya
waktu akan membuatmu tertawa

tangerang, 29 mei 1979

Sunday, July 01, 2007

Jenuh

Jenuh banget ya rasanya
Gak tahu kenapa, tapi rasanya jenuh banget saat ini
Mungkin jenuh kerja seharian yang terkadang dalam seminggu penuh gak berhenti
Mungkin jenuh karena harus memandang langit-langit kamar kost yang gak berubah-ubah
Mungkin jenuh bertemu dengan orang-orang yang itu-itu saja
Mungkin jenuh mesti bersikap baik sama semua orang
Mungkin jenuh berkorban
Mungkin jenuh disepelekan
Mungkin jenuh disakiti
Atau mungkin jenuh sama kamu!!!!!!!
Jenuh pada sikapmu, perlakuanmu, keegoisanmu
Jenuh pada semua tentangmu……
Jenuh……

Jenuh

Ter…nyata hati, tak bisa berdusta
Meskiku coba, tetap tak bisa
Dulu cintaku, banyak padamu
Entah mengapa, kini berkurang

Reff :
Maaf ku jenuh padamu
Lama sudah kupendam
Tertahan dibibirku
Mauku tak menyakiti
Meski begitu indah
Ku masih tetap saja…. jenuh ….

Taukah kini, kau kuhindari
Merasakan kau, ku lain padamu
Cinta bukan, hanya cinta saja
Sementara kau, merasa cukup

By: Rio Febrian

Wednesday, June 27, 2007

Peranku

Berhadapan denganmu menempatkanku layaknya sebagai pemeran tokoh
kadang protagonis dan seringkali antagonis
dalam cerita yang tak pernah kupahami alurnya
entah karakter mana yang kerap kau pilih untuk kumainkan dalam skenariomu
kemarin protagonis, hari ini antagonis
dan entah apa esok, lusa dan selanjutnya
aku tidak tahu
aku hanya pemeran
yang menjalankan tokoh dalam skenariomu
yang terdiam terpaku menyaksikan penampilan para tokoh utamamu
dan berharap mendapat peran menantang
peran menjadi diriku sendiri

Tuesday, June 19, 2007

untuk perjuangan seorang kakek

Berjalan kaki, adalah salah satu aktifitas yang paling kusukai, Terutama kalau dilakukan sendirian di malam hari. Meski banyak yang bilang berjalan kaki di malam hari sangat berbahaya, apalagi untuk perempuan seperti ku
Padahal, menurutku malam hari adalah waktu terbaik menikmati keindahan sekaligus keramahan cuaca di Jakarta. Meski polusi masih banyak betebaran, namun setidaknya panasnya suhu sudah tak terasa dan keindahan lampu-lampu membuat dia tampak makin cantik ditengah malam.

Ibarat manusia, mungkin kota Jakarta bisa dikategorikan sebagai wanita yang umumnya tampil lebih cantik dimalam hari (ini mungkin hanya dimengerti oleh perempuan saja :p )
Namun 18 juni 2007 kemarin, rasanya kenikmatan itu langsung terenggut dari hatiku. Tepatnya pukul 15.00 wib ketika aku menyebrangi jembatan penyebarangan didepan hotel Le Meridien dan Sona Topas Jakarta Selatan.
Panas jakarta masih seperti biasanya, membakar kulit dan membuat pusing kepala. Langkahku pendek-pendek namun mantap menaiki satu persatu anak tangga jembatan penyebrangan itu.
Ketika tepat ditengah jembatan, duduk seorang bapak tua berusia sekitar 70an, dengan barang dagangan gelaran disampingnya. Sekilas kulirik dia, terlihat diam menyaksikan kumpulan gembok dan peralatan rumah tangga lain yang menjadi dagangannya.Walau sekilas, kulihat dia menahan kantuknya, dengan butiran keringat didahinya.
Jembatan tersebut selalu sepi sehingga saat itu aku merasa ia seolah menanti harapan kosong demi mendapatkan rupiah sekedar ongkos pulang atau membeli makan bagi perutnya dan juga keluarganya.
Uffh seharusnya sang kakek saat itu tengah tidur siang seperti layaknya para kakek lainnya, atau bahkan seharusnya dia tengah tertawa sambil mengasuh sang cucu yang terus mengganggu waktu membacanya.
Namun dia berada disitu, dengan semangatnya yang menolak menadahkan tangan hanya meminta belas kasihan orang lain, dan berjuang dengan sisa-sisa kemampuannya.
Kupaksakan diri untuk tak kembali menatapnya, dan kuteruskan langkah menuju ketujuanku.
Selesai pertemuanku, kembali kulewati rute yang sama, dan ternyata sang kakek masih berada ditempat yang sama.
Namun kini, dia tak lagi terduduk membeku, namun tengah sibuk membereskan dagangannya, karena langit tak bersahabat dengan awan mendung menggantung siap menjatuhkan hujannya.
Kali ini sama sekali tak bisa kulepaskan tatapanku dari sosok yang mungkin penuh derita, karena pengalaman hidup dan penderitaan yang makin membungkukkan tubuhnya.
Dengan telaten dia membereskan dagangannya, dan merapikannya dalam sebuah karung lusuh yang sudah tertambal disana sini. Aah ingin rasanya membantunya, namun kulihat dia begitu serius hingga tak menanggapi sapaanku. Sambil berjalan terus kupanjatkan harapanku. Semoga hidupmu lebih baik dari saat ku melihatmu. Dan semoga hidup mau berkompromi pada perjuanganmu selama ini. Yah semoga saja……………

Thursday, June 14, 2007

i'm in love

Pagi ini,
Ku tatap cermin,
Kulihat wajahku segar bersemu
Senyumnya berbeda dari biasanya
Rambutku mengembang sempurna
Bibirku tetap penuh tapi tampak merah merekah
Semuanya tampak terlihat sempurna
Tapi entah apa yang berbeda
Oh ya ternyata kini aku tengah jatuh cinta
Jatuh cinta pada diriku sendiri
Ah…….

Monday, June 11, 2007

to all people that i love

hei siapa kau?
beraninya kau datang ketika hatiku tengah gundah?
siapa kau?
beraninya kau diam-diam masuk dalam hidupku dengan semua kelazimanmu?
siapa kau?
aku tak kenal kau
selain sosok diam bermisteri
yang terbahak norak saat tergelitik canda
yang gemar menggosok hidung saat serius dan gugup
yang berjalan dengan goyangan kepala naik turunmu
hei siapa kau?
kenapa kau masih berdiri disini?
hanya diam dan hanya diam
hei siapakah kau?


Kita duduk terdiam
Dikursi besi tua berkarat
Dibawah pohon beringin raksasa
Dengan teman angin tengah malam Jakarta
ditaman luas mereka berpasangan, dengan kita diantaranya
Helaian daun gugur menerpa wajahku
Kita begitu dekat....
tapi ku tak merasakanmu
tubuhmu disampingku
dan kuhanya mampu menghirup aromanya
ahh berat rasanya, tapi ku cinta saat itu
for u out there

01.00 dinihari ini langit cerah
kilatan cahaya televisi masih setia berkilat
suara gemirisik air terus bersahutan
hingga pagi dan malam menyapa bergantian
bosan? mungkin
lelah? entahlah
benci? tak tahulah
namun pasti kurindukan
to life

dia menghampiri
dengan jemari mungilnya dia usap kepalaku
suara kecilnya singkat berkata
i love u bunda
kemudian dia kembali berlari pada sepeda kecilnya
namun aku disini
masih terpukau
masih berderai
masih tersenyum
masih menikmati
usapan jemari mungilnya
yang mungkin merasakan kepedihanku
my little sunshine

tubuhnya mulai terlihat makin ringkih
dengan kerutan dalam dibawah matanya
sosok yang dulu dan kini begitu kutakuti
dia kini terlihat jauh berbeda
seringku seolah tak peduli
dalam diamnya, marahnya, duduknya, bahkan tidurnya aku tahu
ada jiwa yang terbelenggu
karena dalam dirinya kulihat diriku
maaf jika selama ini tak sempat terlontar ucapan cinta dari bibir ini
tak pernah ada lagi pelukan hangat dari tangan ini
tak pernah ada lagi telinga yang bisa mendengar kesahmu
biarlah aku mencintaimu dalam kesunyian ini
karena didalam hatimu
kau pasti tahu aku adalah dirimu
dad, for love

uffhh seketika damai menyelimuti
ketika kudengar suara itu
suara itu begitu biasa, namun lembut dan menyentuh kalbuku
suara yang kerap melantunkan kata,
petuah, senandung, kemarahan, dan juga kesedihan
suara yang akrab menyapa telingaku sejakku menyapa dunia ini
suara yang selalu kurindukan
bahkan saat kebencian bersemayam dihatiku
suara yang ingin selalu kudengar selamanya
suara pemberiku kekuatan
bahkan dikala aku merasa hancur
my mom my hero

empat tahun lalu aku melihatnya
dengan tubuh mungil dan kulit coklatnya
dia terlihat rentan dan rapuh, tapi entah kenapa
hatiku merasa dia berbeda, tapi entah kenapa
sejak saat itulah kita dekat, tapi entah kenapa
lantas kau berubah, entah mengapa
berani tapi ketakutan, entah mengapa
kau menolak menangis, meski ku membacanya, entah mengapa
aku tak tahu apa dibalikmu sebenarnya, entah mengapa
terkadang tampil sebagai sosok asing yang menjengkelkan, sosok ceria yang menyenangkan, atau sosok diam yang mencurigakan
kita saling tertawa, terdiam, bingung, bersenandung, marah, benci, tapi kukembali, entah mengapa
dan kini ku tetap disini, mengamatimu, mengingatkanmu, mengeluh padamu, dan terus ingin menjagamu
tahu mengapa?
karena kau sahabatku
for my bestfriend: menangis bukan kelemahan, tapi keberanian mengungkapkan perasaan.

Tuesday, May 29, 2007

meaning of my life

Langkahku terus menapak
Menjejaki tanah yang terus mengeras
Dengan desiran angin yang setia menemani
Sesekali kudengar bising disekitarku
Dan debu menghalangi pandanganku
Namun aku tetap setia melangkah
Berharap langkahku memberi arti
Hingga hidupku ini bisa lebih bermakna
Untukku, untukmu, dan untuk mereka disekelilingku




Friday, May 11, 2007

Happy Birthday my dear love

rasanya hari itu baru saja terjadi kemarin
ketika dunia serasa runtuh menimpaku
kala kudengar kabar itu,
seketika duniaku berputar
membawaku mengingat akan tawamu, candamu, rayuanmu yang seolah tak pernah berhenti
lidahku seolah masih merasakan nasi goreng spesial yang rajin kau buatkan jika kita bersama
masih teringat wajah pucatmu setiap kali kupaksa menyantap gado-gado yang sampai saat ini selalu kuhindari karena selalu mengingatkanku pada dirimu
hari itu terlalu cepat datang untukmu
rasanya baru kemarin ketika kau pecahkan gelas tanpa sengaja sekedar ingin menggenggam tanganku
ketika kau pasangkan gelang yang kau beli dengan uang hasil keringat pertamamu
ketika hampir setiap hari kau duduk dipintu kereta ekonomi itu hanya untuk menjemputku
ketika kau memaksaku bangun dipagi hari untuk jogging yang menurutmu menyehatkan namun bagiku melelahkan
ketika kau tak peduli dengan lelahmu dan selalu menggendongku jika aku malas berjalan
bahkan, masih terngiang rengekan manjamu setiap kali meminta aku bertemu dengan sahabat-sahabatmu
belum sempat kubalas kata cinta yang sering kau bisikkan ketika aku cemberut karena marah
belum sempat kubalas surat kertas hitam yang kau cari hingga luka kepalamu
aku rindu
dengan limpahan kasih yang kau berikan tanpa keluh
dengan kesabaranmu atas keinginan dan amarahku
dengan tenaga yang seolah tak pernah lelah mencintaiku
dengan tawa dan candamu yang mampu menghilangkan gundahku seperti yang kurasakan saat ini

11 May 2007,
happy birthday my dear love