Tuesday, May 11, 2010

Segelas teh manis buatan mama

Segelas teh manis dingin buatan mama selalu menungguku selepas pulang kuliah dulu. Tak seharipun kulewati tanpanya. seringkali ketika menyentuhnya ku membayangkan kau memasukkan dua sendok teh gula kedalam gelas plastik bertutup itu, kemudian menumpahkan air panas kedalam teh celup yang sesekali kau angkat menghindari pahit berlebih. Tak lepas juga ku memikirkan ketika dengan hati-hati kau masukkan gelas itu dalam pendingin dan menjaganya baik-baik agar tidak ada yang meminumnya kecuali aku. Begitu sederhana. Namun kesederhanaan itu telah memaknai hidupku. Sama halnya dengan setiap kau melepasku pergi dengan mengantarku hingga hilang dari pandanganmu, atau dengan sms mu yang rutin muncul lebih dari 3 kali dalam sehari yang isinya selalu sama Neng udah bangun?, neng udah makan? atau neng istirahat ya met tidur, ati-ati ya sayang mama. Walaupun kadang kujawab dengan singkat tapi kau tidak pernah mengeluh.
Kau pun bahkan rela tertidur hingga jauh tengah malam ketika aku pulang hanya demi mendengar ceritaku, walaupun keesokan harinya masih harus bergelut dengan rutinitas harianmu yang seolah tidak berjeda itu.
Bahkan kini, diusiaku yang lebih dari setengah usiamu, kau masih setia menunggu selarut apapun aku pulang, dan segera menyediakan segelas air putih hangat yang selalu kutolak karena merasa seolah dilayani. "seharusnya mia yang melayani mama, bukan sebaliknya" itu kataku, yang sebelumnya kau tentang namun akhirnya pahami maksudku.
Air matamu mudah terurai ketika mendengar satu dari kami sakit atau tertimpa kesulitan. Kau selalu menomor satukan kami, dibanding dirimu sendiri.
Ditengah kekesalanmu kau pun tidak bisa menutupi kepedulian dan kasih sayangmu. Masih kuingat saat kau baru saja menangis karena kesal pada papa, tapi kau justru memintaku menyediakan makan untuknya. Aku tahu, dibalik kalimat ketusmu, kau tetap menyimpan rasa sayang dan khawatirmu walau rasa kesal masih menyelimuti.
Kekhawatiran berlebihmu itulah yang sering membuat aku menyimpan sendiri kesusahanku agar tidak membebanimu. Karena kuingin hanya membagi suka denganmu, dan menjagamu seperti halnya kau menjagaku, meski rasanya itu tak akan pernah sama.
Ma, takkan pernah cukup kata terimakasih untuk semua pengorbananmu selama lebih dari separuh hidupmu mengabdi pada keluarga ini. Tidak akan pernah bisa aku membalas semua yang telah kau berikan selama ini.
terimakasih ma, untuk kesabaranmu mengandungku selama 9 bulan, menahan sakit selama 3 hari menjelang kelahiranku yang lama tiba, melahirkanku dinihari itu, mengasuh dan membesarkanku sepenuh hati. Terimakasih telah menjaga hati dan perasaanku.
Selamat ulang tahun Ma, semoga Allah SWT memberikan kebahagiaan, kesehatan, dan selalu menjagamu. Ma, kau adalah belahan jiwaku, penyempurna hidupku, dan segalanya bagiku. Kau adalah aku. Ma, mencintaimu bukan sekedar keinginanku, tapi kebutuhanku.

Love u so much Ma, more than words can say...