Berhadapan denganmu menempatkanku layaknya sebagai pemeran tokoh
kadang protagonis dan seringkali antagonis
dalam cerita yang tak pernah kupahami alurnya
entah karakter mana yang kerap kau pilih untuk kumainkan dalam skenariomu
kemarin protagonis, hari ini antagonis
dan entah apa esok, lusa dan selanjutnya
aku tidak tahu
aku hanya pemeran
yang menjalankan tokoh dalam skenariomu
yang terdiam terpaku menyaksikan penampilan para tokoh utamamu
dan berharap mendapat peran menantang
peran menjadi diriku sendiri
Tuesday, June 19, 2007
untuk perjuangan seorang kakek
Berjalan kaki, adalah salah satu aktifitas yang paling kusukai, Terutama kalau dilakukan sendirian di malam hari. Meski banyak yang bilang berjalan kaki di malam hari sangat berbahaya, apalagi untuk perempuan seperti ku
Padahal, menurutku malam hari adalah waktu terbaik menikmati keindahan sekaligus keramahan cuaca di Jakarta. Meski polusi masih banyak betebaran, namun setidaknya panasnya suhu sudah tak terasa dan keindahan lampu-lampu membuat dia tampak makin cantik ditengah malam.
Ibarat manusia, mungkin kota Jakarta bisa dikategorikan sebagai wanita yang umumnya tampil lebih cantik dimalam hari (ini mungkin hanya dimengerti oleh perempuan saja :p )
Namun 18 juni 2007 kemarin, rasanya kenikmatan itu langsung terenggut dari hatiku. Tepatnya pukul 15.00 wib ketika aku menyebrangi jembatan penyebarangan didepan hotel Le Meridien dan Sona Topas Jakarta Selatan.
Panas jakarta masih seperti biasanya, membakar kulit dan membuat pusing kepala. Langkahku pendek-pendek namun mantap menaiki satu persatu anak tangga jembatan penyebrangan itu.
Ketika tepat ditengah jembatan, duduk seorang bapak tua berusia sekitar 70an, dengan barang dagangan gelaran disampingnya. Sekilas kulirik dia, terlihat diam menyaksikan kumpulan gembok dan peralatan rumah tangga lain yang menjadi dagangannya.Walau sekilas, kulihat dia menahan kantuknya, dengan butiran keringat didahinya.
Jembatan tersebut selalu sepi sehingga saat itu aku merasa ia seolah menanti harapan kosong demi mendapatkan rupiah sekedar ongkos pulang atau membeli makan bagi perutnya dan juga keluarganya.
Uffh seharusnya sang kakek saat itu tengah tidur siang seperti layaknya para kakek lainnya, atau bahkan seharusnya dia tengah tertawa sambil mengasuh sang cucu yang terus mengganggu waktu membacanya.
Namun dia berada disitu, dengan semangatnya yang menolak menadahkan tangan hanya meminta belas kasihan orang lain, dan berjuang dengan sisa-sisa kemampuannya.
Kupaksakan diri untuk tak kembali menatapnya, dan kuteruskan langkah menuju ketujuanku.
Selesai pertemuanku, kembali kulewati rute yang sama, dan ternyata sang kakek masih berada ditempat yang sama.
Namun kini, dia tak lagi terduduk membeku, namun tengah sibuk membereskan dagangannya, karena langit tak bersahabat dengan awan mendung menggantung siap menjatuhkan hujannya.
Kali ini sama sekali tak bisa kulepaskan tatapanku dari sosok yang mungkin penuh derita, karena pengalaman hidup dan penderitaan yang makin membungkukkan tubuhnya.
Dengan telaten dia membereskan dagangannya, dan merapikannya dalam sebuah karung lusuh yang sudah tertambal disana sini. Aah ingin rasanya membantunya, namun kulihat dia begitu serius hingga tak menanggapi sapaanku. Sambil berjalan terus kupanjatkan harapanku. Semoga hidupmu lebih baik dari saat ku melihatmu. Dan semoga hidup mau berkompromi pada perjuanganmu selama ini. Yah semoga saja……………
Padahal, menurutku malam hari adalah waktu terbaik menikmati keindahan sekaligus keramahan cuaca di Jakarta. Meski polusi masih banyak betebaran, namun setidaknya panasnya suhu sudah tak terasa dan keindahan lampu-lampu membuat dia tampak makin cantik ditengah malam.
Ibarat manusia, mungkin kota Jakarta bisa dikategorikan sebagai wanita yang umumnya tampil lebih cantik dimalam hari (ini mungkin hanya dimengerti oleh perempuan saja :p )
Namun 18 juni 2007 kemarin, rasanya kenikmatan itu langsung terenggut dari hatiku. Tepatnya pukul 15.00 wib ketika aku menyebrangi jembatan penyebarangan didepan hotel Le Meridien dan Sona Topas Jakarta Selatan.
Panas jakarta masih seperti biasanya, membakar kulit dan membuat pusing kepala. Langkahku pendek-pendek namun mantap menaiki satu persatu anak tangga jembatan penyebrangan itu.
Ketika tepat ditengah jembatan, duduk seorang bapak tua berusia sekitar 70an, dengan barang dagangan gelaran disampingnya. Sekilas kulirik dia, terlihat diam menyaksikan kumpulan gembok dan peralatan rumah tangga lain yang menjadi dagangannya.Walau sekilas, kulihat dia menahan kantuknya, dengan butiran keringat didahinya.
Jembatan tersebut selalu sepi sehingga saat itu aku merasa ia seolah menanti harapan kosong demi mendapatkan rupiah sekedar ongkos pulang atau membeli makan bagi perutnya dan juga keluarganya.
Uffh seharusnya sang kakek saat itu tengah tidur siang seperti layaknya para kakek lainnya, atau bahkan seharusnya dia tengah tertawa sambil mengasuh sang cucu yang terus mengganggu waktu membacanya.
Namun dia berada disitu, dengan semangatnya yang menolak menadahkan tangan hanya meminta belas kasihan orang lain, dan berjuang dengan sisa-sisa kemampuannya.
Kupaksakan diri untuk tak kembali menatapnya, dan kuteruskan langkah menuju ketujuanku.
Selesai pertemuanku, kembali kulewati rute yang sama, dan ternyata sang kakek masih berada ditempat yang sama.
Namun kini, dia tak lagi terduduk membeku, namun tengah sibuk membereskan dagangannya, karena langit tak bersahabat dengan awan mendung menggantung siap menjatuhkan hujannya.
Kali ini sama sekali tak bisa kulepaskan tatapanku dari sosok yang mungkin penuh derita, karena pengalaman hidup dan penderitaan yang makin membungkukkan tubuhnya.
Dengan telaten dia membereskan dagangannya, dan merapikannya dalam sebuah karung lusuh yang sudah tertambal disana sini. Aah ingin rasanya membantunya, namun kulihat dia begitu serius hingga tak menanggapi sapaanku. Sambil berjalan terus kupanjatkan harapanku. Semoga hidupmu lebih baik dari saat ku melihatmu. Dan semoga hidup mau berkompromi pada perjuanganmu selama ini. Yah semoga saja……………
Thursday, June 14, 2007
i'm in love
Pagi ini,
Ku tatap cermin,
Kulihat wajahku segar bersemu
Senyumnya berbeda dari biasanya
Rambutku mengembang sempurna
Bibirku tetap penuh tapi tampak merah merekah
Semuanya tampak terlihat sempurna
Tapi entah apa yang berbeda
Oh ya ternyata kini aku tengah jatuh cinta
Jatuh cinta pada diriku sendiri
Ah…….
Ku tatap cermin,
Kulihat wajahku segar bersemu
Senyumnya berbeda dari biasanya
Rambutku mengembang sempurna
Bibirku tetap penuh tapi tampak merah merekah
Semuanya tampak terlihat sempurna
Tapi entah apa yang berbeda
Oh ya ternyata kini aku tengah jatuh cinta
Jatuh cinta pada diriku sendiri
Ah…….
Monday, June 11, 2007
to all people that i love
hei siapa kau?
beraninya kau datang ketika hatiku tengah gundah?
siapa kau?
beraninya kau diam-diam masuk dalam hidupku dengan semua kelazimanmu?
siapa kau?
aku tak kenal kau
selain sosok diam bermisteri
yang terbahak norak saat tergelitik canda
yang gemar menggosok hidung saat serius dan gugup
yang berjalan dengan goyangan kepala naik turunmu
hei siapa kau?
kenapa kau masih berdiri disini?
hanya diam dan hanya diam
hei siapakah kau?
Kita duduk terdiam
Dikursi besi tua berkarat
Dibawah pohon beringin raksasa
Dengan teman angin tengah malam Jakarta
ditaman luas mereka berpasangan, dengan kita diantaranya
Helaian daun gugur menerpa wajahku
Kita begitu dekat....
tapi ku tak merasakanmu
tubuhmu disampingku
dan kuhanya mampu menghirup aromanya
ahh berat rasanya, tapi ku cinta saat itu
for u out there
01.00 dinihari ini langit cerah
kilatan cahaya televisi masih setia berkilat
suara gemirisik air terus bersahutan
hingga pagi dan malam menyapa bergantian
bosan? mungkin
lelah? entahlah
benci? tak tahulah
namun pasti kurindukan
to life
dia menghampiri
dengan jemari mungilnya dia usap kepalaku
suara kecilnya singkat berkata
i love u bunda
kemudian dia kembali berlari pada sepeda kecilnya
namun aku disini
masih terpukau
masih berderai
masih tersenyum
masih menikmati
usapan jemari mungilnya
yang mungkin merasakan kepedihanku
my little sunshine
tubuhnya mulai terlihat makin ringkih
dengan kerutan dalam dibawah matanya
sosok yang dulu dan kini begitu kutakuti
dia kini terlihat jauh berbeda
seringku seolah tak peduli
dalam diamnya, marahnya, duduknya, bahkan tidurnya aku tahu
ada jiwa yang terbelenggu
karena dalam dirinya kulihat diriku
maaf jika selama ini tak sempat terlontar ucapan cinta dari bibir ini
tak pernah ada lagi pelukan hangat dari tangan ini
tak pernah ada lagi telinga yang bisa mendengar kesahmu
biarlah aku mencintaimu dalam kesunyian ini
karena didalam hatimu
kau pasti tahu aku adalah dirimu
dad, for love
uffhh seketika damai menyelimuti
ketika kudengar suara itu
suara itu begitu biasa, namun lembut dan menyentuh kalbuku
suara yang kerap melantunkan kata,
petuah, senandung, kemarahan, dan juga kesedihan
suara yang akrab menyapa telingaku sejakku menyapa dunia ini
suara yang selalu kurindukan
bahkan saat kebencian bersemayam dihatiku
suara yang ingin selalu kudengar selamanya
suara pemberiku kekuatan
bahkan dikala aku merasa hancur
my mom my hero
empat tahun lalu aku melihatnya
dengan tubuh mungil dan kulit coklatnya
dia terlihat rentan dan rapuh, tapi entah kenapa
hatiku merasa dia berbeda, tapi entah kenapa
sejak saat itulah kita dekat, tapi entah kenapa
lantas kau berubah, entah mengapa
berani tapi ketakutan, entah mengapa
kau menolak menangis, meski ku membacanya, entah mengapa
aku tak tahu apa dibalikmu sebenarnya, entah mengapa
terkadang tampil sebagai sosok asing yang menjengkelkan, sosok ceria yang menyenangkan, atau sosok diam yang mencurigakan
kita saling tertawa, terdiam, bingung, bersenandung, marah, benci, tapi kukembali, entah mengapa
dan kini ku tetap disini, mengamatimu, mengingatkanmu, mengeluh padamu, dan terus ingin menjagamu
tahu mengapa?
karena kau sahabatku
for my bestfriend: menangis bukan kelemahan, tapi keberanian mengungkapkan perasaan.
beraninya kau datang ketika hatiku tengah gundah?
siapa kau?
beraninya kau diam-diam masuk dalam hidupku dengan semua kelazimanmu?
siapa kau?
aku tak kenal kau
selain sosok diam bermisteri
yang terbahak norak saat tergelitik canda
yang gemar menggosok hidung saat serius dan gugup
yang berjalan dengan goyangan kepala naik turunmu
hei siapa kau?
kenapa kau masih berdiri disini?
hanya diam dan hanya diam
hei siapakah kau?
Kita duduk terdiam
Dikursi besi tua berkarat
Dibawah pohon beringin raksasa
Dengan teman angin tengah malam Jakarta
ditaman luas mereka berpasangan, dengan kita diantaranya
Helaian daun gugur menerpa wajahku
Kita begitu dekat....
tapi ku tak merasakanmu
tubuhmu disampingku
dan kuhanya mampu menghirup aromanya
ahh berat rasanya, tapi ku cinta saat itu
for u out there
01.00 dinihari ini langit cerah
kilatan cahaya televisi masih setia berkilat
suara gemirisik air terus bersahutan
hingga pagi dan malam menyapa bergantian
bosan? mungkin
lelah? entahlah
benci? tak tahulah
namun pasti kurindukan
to life
dia menghampiri
dengan jemari mungilnya dia usap kepalaku
suara kecilnya singkat berkata
i love u bunda
kemudian dia kembali berlari pada sepeda kecilnya
namun aku disini
masih terpukau
masih berderai
masih tersenyum
masih menikmati
usapan jemari mungilnya
yang mungkin merasakan kepedihanku
my little sunshine
tubuhnya mulai terlihat makin ringkih
dengan kerutan dalam dibawah matanya
sosok yang dulu dan kini begitu kutakuti
dia kini terlihat jauh berbeda
seringku seolah tak peduli
dalam diamnya, marahnya, duduknya, bahkan tidurnya aku tahu
ada jiwa yang terbelenggu
karena dalam dirinya kulihat diriku
maaf jika selama ini tak sempat terlontar ucapan cinta dari bibir ini
tak pernah ada lagi pelukan hangat dari tangan ini
tak pernah ada lagi telinga yang bisa mendengar kesahmu
biarlah aku mencintaimu dalam kesunyian ini
karena didalam hatimu
kau pasti tahu aku adalah dirimu
dad, for love
uffhh seketika damai menyelimuti
ketika kudengar suara itu
suara itu begitu biasa, namun lembut dan menyentuh kalbuku
suara yang kerap melantunkan kata,
petuah, senandung, kemarahan, dan juga kesedihan
suara yang akrab menyapa telingaku sejakku menyapa dunia ini
suara yang selalu kurindukan
bahkan saat kebencian bersemayam dihatiku
suara yang ingin selalu kudengar selamanya
suara pemberiku kekuatan
bahkan dikala aku merasa hancur
my mom my hero
empat tahun lalu aku melihatnya
dengan tubuh mungil dan kulit coklatnya
dia terlihat rentan dan rapuh, tapi entah kenapa
hatiku merasa dia berbeda, tapi entah kenapa
sejak saat itulah kita dekat, tapi entah kenapa
lantas kau berubah, entah mengapa
berani tapi ketakutan, entah mengapa
kau menolak menangis, meski ku membacanya, entah mengapa
aku tak tahu apa dibalikmu sebenarnya, entah mengapa
terkadang tampil sebagai sosok asing yang menjengkelkan, sosok ceria yang menyenangkan, atau sosok diam yang mencurigakan
kita saling tertawa, terdiam, bingung, bersenandung, marah, benci, tapi kukembali, entah mengapa
dan kini ku tetap disini, mengamatimu, mengingatkanmu, mengeluh padamu, dan terus ingin menjagamu
tahu mengapa?
karena kau sahabatku
for my bestfriend: menangis bukan kelemahan, tapi keberanian mengungkapkan perasaan.
Tuesday, May 29, 2007
meaning of my life
Langkahku terus menapakMenjejaki tanah yang terus mengeras
Dengan desiran angin yang setia menemani
Sesekali kudengar bising disekitarku
Dan debu menghalangi pandanganku
Namun aku tetap setia melangkah
Berharap langkahku memberi arti
Hingga hidupku ini bisa lebih bermakna
Untukku, untukmu, dan untuk mereka disekelilingku
Friday, May 11, 2007
Happy Birthday my dear love
rasanya hari itu baru saja terjadi kemarin
ketika dunia serasa runtuh menimpaku
kala kudengar kabar itu,
seketika duniaku berputar
membawaku mengingat akan tawamu, candamu, rayuanmu yang seolah tak pernah berhenti
lidahku seolah masih merasakan nasi goreng spesial yang rajin kau buatkan jika kita bersama
masih teringat wajah pucatmu setiap kali kupaksa menyantap gado-gado yang sampai saat ini selalu kuhindari karena selalu mengingatkanku pada dirimu
hari itu terlalu cepat datang untukmu
rasanya baru kemarin ketika kau pecahkan gelas tanpa sengaja sekedar ingin menggenggam tanganku
ketika kau pasangkan gelang yang kau beli dengan uang hasil keringat pertamamu
ketika hampir setiap hari kau duduk dipintu kereta ekonomi itu hanya untuk menjemputku
ketika kau memaksaku bangun dipagi hari untuk jogging yang menurutmu menyehatkan namun bagiku melelahkan
ketika kau tak peduli dengan lelahmu dan selalu menggendongku jika aku malas berjalan
bahkan, masih terngiang rengekan manjamu setiap kali meminta aku bertemu dengan sahabat-sahabatmu
belum sempat kubalas kata cinta yang sering kau bisikkan ketika aku cemberut karena marah
belum sempat kubalas surat kertas hitam yang kau cari hingga luka kepalamu
aku rindu
dengan limpahan kasih yang kau berikan tanpa keluh
dengan kesabaranmu atas keinginan dan amarahku
dengan tenaga yang seolah tak pernah lelah mencintaiku
dengan tawa dan candamu yang mampu menghilangkan gundahku seperti yang kurasakan saat ini
11 May 2007,
happy birthday my dear love
ketika dunia serasa runtuh menimpaku
kala kudengar kabar itu,
seketika duniaku berputar
membawaku mengingat akan tawamu, candamu, rayuanmu yang seolah tak pernah berhenti
lidahku seolah masih merasakan nasi goreng spesial yang rajin kau buatkan jika kita bersama
masih teringat wajah pucatmu setiap kali kupaksa menyantap gado-gado yang sampai saat ini selalu kuhindari karena selalu mengingatkanku pada dirimu
hari itu terlalu cepat datang untukmu
rasanya baru kemarin ketika kau pecahkan gelas tanpa sengaja sekedar ingin menggenggam tanganku
ketika kau pasangkan gelang yang kau beli dengan uang hasil keringat pertamamu
ketika hampir setiap hari kau duduk dipintu kereta ekonomi itu hanya untuk menjemputku
ketika kau memaksaku bangun dipagi hari untuk jogging yang menurutmu menyehatkan namun bagiku melelahkan
ketika kau tak peduli dengan lelahmu dan selalu menggendongku jika aku malas berjalan
bahkan, masih terngiang rengekan manjamu setiap kali meminta aku bertemu dengan sahabat-sahabatmu
belum sempat kubalas kata cinta yang sering kau bisikkan ketika aku cemberut karena marah
belum sempat kubalas surat kertas hitam yang kau cari hingga luka kepalamu
aku rindu
dengan limpahan kasih yang kau berikan tanpa keluh
dengan kesabaranmu atas keinginan dan amarahku
dengan tenaga yang seolah tak pernah lelah mencintaiku
dengan tawa dan candamu yang mampu menghilangkan gundahku seperti yang kurasakan saat ini
11 May 2007,
happy birthday my dear love
Wednesday, February 07, 2007
Lelah
bahkan mentari pagi pun sudah tak mampu lagi membangkitkan gairahku dalam melangkah. Yah langkahku menjalani hidup ini memang sudah hilang sejak tiga tahun yang lalu, tepatnya sejak aku menyerah dalam ketidakberdayaan menahan nafsuku.
kembali kujalani ritual harianku yang mungkin hampir membunuhku dalam kebosanan. ritual yang sering menghadirkan ketakutan akan rasa bersalah yang menghantui hari bahkan tidur malamku.
tiga tahun hidup dalam rasa bersalah membuatku ibarat sebuah robot yang tak lagi punya perasaan. entah kemana rasa simpati dan empati yang selama ini selalu kuagung-agungkan. rasanya ia telah pergi menggantikan keegoisan yang telah membelit pikiranku.
ufffff rasa bersalah itu ibarat kulit yang terus menempel ditubuhku kemanapun ia pergi. ia ikut saat kutidur, saat ku melangkah, saat ku termangu, bahkan iapun hadir saat pikiranku tengah melayang keluar dari tubuhku.
Lelahku menjalaninya, akankah rasa bersalah ini pergi jauh dari hidupku. aku tak tahu. hanya satu pertanyaanku saat ini apakah ini semata kesalahanku? ataukah akan ada "aku" lain jika aku tak pernah hadir dalam hidupnya?
kembali kujalani ritual harianku yang mungkin hampir membunuhku dalam kebosanan. ritual yang sering menghadirkan ketakutan akan rasa bersalah yang menghantui hari bahkan tidur malamku.
tiga tahun hidup dalam rasa bersalah membuatku ibarat sebuah robot yang tak lagi punya perasaan. entah kemana rasa simpati dan empati yang selama ini selalu kuagung-agungkan. rasanya ia telah pergi menggantikan keegoisan yang telah membelit pikiranku.
ufffff rasa bersalah itu ibarat kulit yang terus menempel ditubuhku kemanapun ia pergi. ia ikut saat kutidur, saat ku melangkah, saat ku termangu, bahkan iapun hadir saat pikiranku tengah melayang keluar dari tubuhku.
Lelahku menjalaninya, akankah rasa bersalah ini pergi jauh dari hidupku. aku tak tahu. hanya satu pertanyaanku saat ini apakah ini semata kesalahanku? ataukah akan ada "aku" lain jika aku tak pernah hadir dalam hidupnya?
Monday, November 20, 2006
Femidom, bukti kegoisan laki-laki????

Sudah bukan rahasia lagi banyak laki-laki yang tidak suka memakai kondom saat berhubungan seksual.
Alasannya, dengan kondom kenikmatan dalam berhubungan seks menjadi berkurang, dan akhirnya mereka membiarkan ritual seksual yang satu ini berjalan tanpa adanya pengaman. Buruknya, banyak kaum pria yang enggan menggunakan kondom ini saat berhubungan dengan wanita yang bukan pasangannya. akibatnya, resiko penularan penyakit kelamin ke pasangannya akan semakin besar. Kalau sudah begini, maka siapa yang bisa disalahkan? Bahkan saat ini tercatat 43% kasus infeksi HIV di papua terjadi pada perempuan baik kalangan penjaja seks hingga ibu rumah tangga.
Menjawab hal tersebut, inovasi kondom wanita atau femidom pun mulai diciptakan. Tujuannya sudah pasti melindungi pasangan-pasangan dari kehamilan yang tak diinginkan, dan juga munculnya infeksi penyakit kelamin tadi.
Menambah gairah?
Bentuk femidom tidak berbeda jauh dengan bentuk kondom pria pada umumnya. Hanya saja, ukurannya lebih besar. Femidom berbentuk silinder dengan panjang 17 cm dan diamater sekitar 7 cm. Dikedua ujungnya, terdapat cincin yang terbuat dari polyuretan yang berguna untuk menghalangi sperma masuk ke dalam rahim.
Selain terbuat dari polyuretan, femidom juga ada yang berbahan latex. Untuk jenis yang satu ini, penghalang antara sperma dan mulut rahim terbuat dari busa halus yang bisa merangsang klitoris dan penis sehingga bisa meningkatkan gairah seksual pemakai dan pasangannya.
Perbedaan lainnya, jika kondom pria dianggap bisa mengurangi kegairahan, femidom disebutkan bisa meningkatkan gairah kedua pasangan pada saat melakukan hubungan.
namun masalahnya, apakah femidom ini bisa menambah gairah wanita jika dengan ukurannya yang cukup besar itu membuat wanita ngeri atau bahkan merasa tidak nyaman saat menggunakannya.
selain saya rasa bentuknya yang kurang nyaman, pemakaian femidom juga lebih rumit dibandingkan dengan kondom laki-laki. Untuk pemakaiannya, salah satu cincin bagian dalam dimasukkan ke dalam vagina dan ditempelkan ke mulut rahim, sementara sisi lainnya menahan posisi kondom di mulut vagina.
kelemahan lain, femidom lebih mahal dibandingkan kondom laki-laki. Jika kondom laki-laki dijual berkisar antara Rp.1500 keatas, maka femidom dijual seharga mulai dari Rp.15.000.
Selain itu, pemakain femidom pun tak bisa bebas melakukan hubungan dengan beragam gaya. Agar sperma tidak tumpah, para pasangan harus menggunakan gaya missionaries (konvensional), dan hindari posisi woman on top (padahal banyak wanita yang mengatakan posisi ini adalah posisi yang cukup nyaman bagi wanita).
Jadi, pertanyaannya kini, apakah femidom merupakan jawaban dari permasalahan? atau sumber pertanyaan baru tentang tingkat keegosian pria terhadap pasangannya? siapa yang tahu...............
Wednesday, October 11, 2006
I luv u mom
Ia jarang mengeluh, meskipun penderitaan sering menerpanya. masa selama 32 tahun dihabiskan untuk mengurus kami anak-anaknya yang seringkali membuatnya meneterskan air mata kesedihan. Namun, ia tetap tak mengeluh dan hanya diam menjalani semuanya.
Selama 27 tahun perjalanan hidupku, hanya dia yang selalu setia menemani dan mencintaiku selamanya. Siang, malam ia selalu setia menanti kedatanganku, meskipun lelah menyelimutinya.
Kadang, aku tak menyadarinya dan mungkin menyakiti hatinya. Hari ini, ketika kumulai rutinitas pekerjaanku, dan membaca salah satu postingan di milis yang aku ikuti, hatiku tersentak.
Tuhan, sudah seberapa sering pengorbanan ibuku padaku selama ini? seberapa besar kasih sayangnya padaku selama ini? TAK TERBATAS.
Lantas, sejauh mana pengorbanan dan kasih sayangku padanya? rasanya TIADA. Dibandingkan dengan apa yang telah diberikannya padaku.
Bahkan, aku baru menyadari, sudah sejak kemarin aku sama sekali tak menghubungi rumah, hanya sekedar untuk menanyakan kabarnya yang seringkali didera sakit lelah dan penebalan dinding jantung yang pernah dideritanya empat tahun silam.
Ratusan pertanyaan muncul dikepala, yang mungkin saat ini sudah jarang aku lakukan "Mama sehat?" "Sudah minum obat?" "Hari ini ngapain aja?"
Tapi ada satu kalimat yang selama ini selalu terlupa aku sampaikan padanya. Kalimat sederhan namun sulit terungkapkan. Kalimat yang mungkin menjadi pengobat kesal dan lelahnya selama ini, kalimat sesederhana "aku sayang padamu mah".
Hari ini, kemarin, esok, lusa, selamanya, dan sebelum aku terlambat mengucapkannya ketika mulutku tak mungkin lagi bergerak, hanya ada satu kata yang ingin kuucapkan saat itu. "I luv you mom"
JIKA SAAT INI KAU MASIH MERASA BERAT UNTUK MENGUCAPKAN KALIMAT ITU, MUNGKIN KUTIPAN TULISAN BERIKUT BISA MEMBUAT MULUTMU BERGERAK UNTUK MENGUCAPKANNYA.
(thanks buat pengirim tulisan ini)
Delapan Kebohongan Seorang Ibu Dalam Hidupnya
Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.
Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin.
Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata :
"Makanlah nak, aku tidak lapar"
----------KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA
Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan anaknya.
Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang
selera.
Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata:
"Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan"
---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA
Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api.
Aku berkata :"Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus
kerja.
" Ibu tersenyum dan berkata :"Cepatlah tidur nak, aku tidak capek"
---------- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA
Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental.
Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk
ibu sambil menyuruhnya minum.
Ibu berkata :"Minumlah nak, aku tidak haus!"
---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT
Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri.
Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka,
ibu berkata: "Saya tidak butuh cinta"
----------KEBOHONGA N IBU YANG KELIMA
Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut.
Ibu berkata : "Saya punya duit"
----------KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM
Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan.
Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku "Aku tidak terbiasa"
----------KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH
Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkenapenyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya.
Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini.
Tetapi ibu dengan tegarnya berkata :
"jangan menangis anakku,Aku tidak kesakitan"
----------KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.
Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.
---ooOOOoo-- -
Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : " Terima kasih ibu, dan terima kasih ayah ! "
Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah.
Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita.
Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari orang tua kita?
Cemas apakah orang tua kita sudah makan atau belum?
Cemas apakah orang tua kita sudah bahagia atau belum?
Apakah ini benar?
Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi..
Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi orang tua kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata "MENYESAL" dikemudian hari.
Selama 27 tahun perjalanan hidupku, hanya dia yang selalu setia menemani dan mencintaiku selamanya. Siang, malam ia selalu setia menanti kedatanganku, meskipun lelah menyelimutinya.
Kadang, aku tak menyadarinya dan mungkin menyakiti hatinya. Hari ini, ketika kumulai rutinitas pekerjaanku, dan membaca salah satu postingan di milis yang aku ikuti, hatiku tersentak.
Tuhan, sudah seberapa sering pengorbanan ibuku padaku selama ini? seberapa besar kasih sayangnya padaku selama ini? TAK TERBATAS.
Lantas, sejauh mana pengorbanan dan kasih sayangku padanya? rasanya TIADA. Dibandingkan dengan apa yang telah diberikannya padaku.
Bahkan, aku baru menyadari, sudah sejak kemarin aku sama sekali tak menghubungi rumah, hanya sekedar untuk menanyakan kabarnya yang seringkali didera sakit lelah dan penebalan dinding jantung yang pernah dideritanya empat tahun silam.
Ratusan pertanyaan muncul dikepala, yang mungkin saat ini sudah jarang aku lakukan "Mama sehat?" "Sudah minum obat?" "Hari ini ngapain aja?"
Tapi ada satu kalimat yang selama ini selalu terlupa aku sampaikan padanya. Kalimat sederhan namun sulit terungkapkan. Kalimat yang mungkin menjadi pengobat kesal dan lelahnya selama ini, kalimat sesederhana "aku sayang padamu mah".
Hari ini, kemarin, esok, lusa, selamanya, dan sebelum aku terlambat mengucapkannya ketika mulutku tak mungkin lagi bergerak, hanya ada satu kata yang ingin kuucapkan saat itu. "I luv you mom"
JIKA SAAT INI KAU MASIH MERASA BERAT UNTUK MENGUCAPKAN KALIMAT ITU, MUNGKIN KUTIPAN TULISAN BERIKUT BISA MEMBUAT MULUTMU BERGERAK UNTUK MENGUCAPKANNYA.
(thanks buat pengirim tulisan ini)
Delapan Kebohongan Seorang Ibu Dalam Hidupnya
Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.
Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin.
Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata :
"Makanlah nak, aku tidak lapar"
----------KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA
Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan anaknya.
Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang
selera.
Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata:
"Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan"
---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA
Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api.
Aku berkata :"Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus
kerja.
" Ibu tersenyum dan berkata :"Cepatlah tidur nak, aku tidak capek"
---------- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA
Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental.
Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk
ibu sambil menyuruhnya minum.
Ibu berkata :"Minumlah nak, aku tidak haus!"
---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT
Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri.
Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka,
ibu berkata: "Saya tidak butuh cinta"
----------KEBOHONGA N IBU YANG KELIMA
Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut.
Ibu berkata : "Saya punya duit"
----------KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM
Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan.
Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku "Aku tidak terbiasa"
----------KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH
Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkenapenyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya.
Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini.
Tetapi ibu dengan tegarnya berkata :
"jangan menangis anakku,Aku tidak kesakitan"
----------KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.
Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.
---ooOOOoo-- -
Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : " Terima kasih ibu, dan terima kasih ayah ! "
Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah.
Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita.
Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari orang tua kita?
Cemas apakah orang tua kita sudah makan atau belum?
Cemas apakah orang tua kita sudah bahagia atau belum?
Apakah ini benar?
Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi..
Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi orang tua kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata "MENYESAL" dikemudian hari.
Monday, September 25, 2006
Aku, puasa, dan keluargaku
Tahun ini, adalah tahun ke 20 aku menjalankan puasa. Gak kerasa ya, kalau ditotal udah hampir sekitar selama satu tahun delapan bulan puasa aku jalanin.
Hari pertama puasa kemarin, sengaja aku sahur dan berbuka bareng keluarga dirumah. (biasanya aku jarang pulang kerumah belakangan ini).
Pertama kali pulang, aku mesti jenguk kakak tertua ku dirumahnya yang sakit penyumbatan ginjal. Udah cukup lama juga gak ketemu dia, dan waktu lihat dia tidur dengan kondisi kakinya yang bengkak, gak kerasa air mata langsung jatuh. Ngerasa berdosa dan bersalah, itu mungkin yang pertama kali terasa. Soalnya, kakak ku yang satu ini, termasuk yang paling sayang sama aku sejak dulu. Tapi karena kerjaanku yang sok sibuk, akhirnya aku malah terkadang melupakan mereka.
Yang bisa kulakukan cuma duduk disampingnya yang lagi tidur dengan dengkurannya. Sambil berdoa dalam hati, gak kerasa air mata terus jatuh (emang cengeng kali ya :p).
Setelah ngobrol panjang lebar dan bertanya soal sakitnya, aku pamit pulang bareng mama, yang karena kepanikannya hingga lupa kalau esok adalah hari puasa pertama dimulai.
Setelah berbelanja dengan mama tercinta, aku yang sejak mulai bekerja dulu mulai malas ngurus pekerjaan rumah karena alasan lelah, mulai kembali turun kedapur (meski gak banyak banget yang bisa dibantu karena dasarnya gak bisa masak).
Ternyata, meskipun itu merupakan hal yang biasa, kulihat mama setengah terharu melihat aku mau membantunya. Sambil bercerita tentang masa kecilku yang selalu rajin membantunya, kita terus meracik masakan sambil kadang tertawa lebar.
Malam itu pula, usai tarawih aku telpon kakak keduaku, untuk datang kerumah menengok mama yang memang tak pernah memaksa anaknya datang kerumah kalau bukan karena keinginan mereka itu.
Usai persiapan sahur, malamnya aku dan mama yang sejak dulu memang sangat akrab (duet maut, kalau kata papa ku bilang) ngobrol sampe pukul 01.00wib. “Mi, udah jam satu neng, bade bobo tabuh sabaraha?” ujar si mama sambil tertawa, sebelum akhirnya kita tertidur nyenyak.
Pukul 03.00wib, aku terbangun karena sms teman yang mengingatkan untuk bangun sahur. (karena anak kost, biasanya aku memang mengandalkan jasa teman untuk membangunkan waktu sahur). Kulihat mama masih tertidur dengan wajah yang lelah. Tak tega membangunkannya, akupun beranjak ke dapur menyiapkan santap sahur buat sekeluarga. Saat tengah menggoreng-goreng, ia terbangun dan langsung mengambil alih semuanya, meskipun aku setengah memaksa untuk menyelesaikannya.
Saat santap sahur, papa mulai membuka obrolan dengan bercerita kisah puasa tahun-tahun sebelumnya. “Dulu papa suka nggak tega liat Mia yang suka nempelin perut ke lantai biar dingin kalau tengah hari bolong waktu puasa,” ujarnya sambil terus menceritakan kisah-kisah dan tingkah polah anak-anaknya dibulan puasa.
Puasa hari pertama kemarin, benar-benar tak terasa olehku. Berada ditengah keluarga, telah membuat aku bisa melewati beratnya hari tanpa keluhan.
Saat bedug maghrib puasa haru pertama dipukul, yang pertama kulakukan hanyalah membatalkan puasa dengan segelas air putih, dan langsung menatap satu persatu wajah keluargaku.
Aku memang hanya terdiam, namun dalam hati aku merasa bahwa aku sangat rindu mereka. Meski terkadang membuat kesal dan marah, tapi mereka tetaplah nafas dalam hidupku. Mereka pulalah yang selama ini telah membuatku bertahan dalam menjalankan semuanya.
Aku, puasa dan keluargaku telah menyadarkanku akan kerinduanku pada kebersamaan kami.
Hari pertama puasa kemarin, sengaja aku sahur dan berbuka bareng keluarga dirumah. (biasanya aku jarang pulang kerumah belakangan ini).
Pertama kali pulang, aku mesti jenguk kakak tertua ku dirumahnya yang sakit penyumbatan ginjal. Udah cukup lama juga gak ketemu dia, dan waktu lihat dia tidur dengan kondisi kakinya yang bengkak, gak kerasa air mata langsung jatuh. Ngerasa berdosa dan bersalah, itu mungkin yang pertama kali terasa. Soalnya, kakak ku yang satu ini, termasuk yang paling sayang sama aku sejak dulu. Tapi karena kerjaanku yang sok sibuk, akhirnya aku malah terkadang melupakan mereka.
Yang bisa kulakukan cuma duduk disampingnya yang lagi tidur dengan dengkurannya. Sambil berdoa dalam hati, gak kerasa air mata terus jatuh (emang cengeng kali ya :p).
Setelah ngobrol panjang lebar dan bertanya soal sakitnya, aku pamit pulang bareng mama, yang karena kepanikannya hingga lupa kalau esok adalah hari puasa pertama dimulai.
Setelah berbelanja dengan mama tercinta, aku yang sejak mulai bekerja dulu mulai malas ngurus pekerjaan rumah karena alasan lelah, mulai kembali turun kedapur (meski gak banyak banget yang bisa dibantu karena dasarnya gak bisa masak).
Ternyata, meskipun itu merupakan hal yang biasa, kulihat mama setengah terharu melihat aku mau membantunya. Sambil bercerita tentang masa kecilku yang selalu rajin membantunya, kita terus meracik masakan sambil kadang tertawa lebar.
Malam itu pula, usai tarawih aku telpon kakak keduaku, untuk datang kerumah menengok mama yang memang tak pernah memaksa anaknya datang kerumah kalau bukan karena keinginan mereka itu.
Usai persiapan sahur, malamnya aku dan mama yang sejak dulu memang sangat akrab (duet maut, kalau kata papa ku bilang) ngobrol sampe pukul 01.00wib. “Mi, udah jam satu neng, bade bobo tabuh sabaraha?” ujar si mama sambil tertawa, sebelum akhirnya kita tertidur nyenyak.
Pukul 03.00wib, aku terbangun karena sms teman yang mengingatkan untuk bangun sahur. (karena anak kost, biasanya aku memang mengandalkan jasa teman untuk membangunkan waktu sahur). Kulihat mama masih tertidur dengan wajah yang lelah. Tak tega membangunkannya, akupun beranjak ke dapur menyiapkan santap sahur buat sekeluarga. Saat tengah menggoreng-goreng, ia terbangun dan langsung mengambil alih semuanya, meskipun aku setengah memaksa untuk menyelesaikannya.
Saat santap sahur, papa mulai membuka obrolan dengan bercerita kisah puasa tahun-tahun sebelumnya. “Dulu papa suka nggak tega liat Mia yang suka nempelin perut ke lantai biar dingin kalau tengah hari bolong waktu puasa,” ujarnya sambil terus menceritakan kisah-kisah dan tingkah polah anak-anaknya dibulan puasa.
Puasa hari pertama kemarin, benar-benar tak terasa olehku. Berada ditengah keluarga, telah membuat aku bisa melewati beratnya hari tanpa keluhan.
Saat bedug maghrib puasa haru pertama dipukul, yang pertama kulakukan hanyalah membatalkan puasa dengan segelas air putih, dan langsung menatap satu persatu wajah keluargaku.
Aku memang hanya terdiam, namun dalam hati aku merasa bahwa aku sangat rindu mereka. Meski terkadang membuat kesal dan marah, tapi mereka tetaplah nafas dalam hidupku. Mereka pulalah yang selama ini telah membuatku bertahan dalam menjalankan semuanya.
Aku, puasa dan keluargaku telah menyadarkanku akan kerinduanku pada kebersamaan kami.
Tuesday, September 05, 2006
Aku menulis diatas pasir untuk sahabatku
Dalam hidupku, yang paling terpenting adalah keluarga dan sahabat-sahabatku. Aku akan rela berbuat apapun demi mereka, meski itu akan menyakiti diriku. Kadang terjadi konflik antara kami, namun aku tetap menyayangi mereka. Satu hal yang pasti, hal itu tak akan menyurutkan persahabatan kami. Karena pada dasarnya, aku tak bisa membenci sahabatku, meskipun besarnya rasa sakitku. Untuk semua sahabatku, yang tahu dan tak tahu betapa aku menyayangi mereka, aku menulis diatas pasir untuk kau yang benar-benar sahabatku. Seperti halnya kisah dalam cerita berikut ini."Ini sebuah kisah tentang dua orang sahabat karib yang sedang berjalan melintasi padang gurun.dalam perjalanan, mereka bertengkar, dan salah seorang menampar temannya.
Orang yang kena tampar merasa sakit hati tapi dengan tanpa berkata-kata dia menulis di atas pasir; HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENAMPAR PIPIKU. Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, di mana mereka memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya
mencoba berenang namun nyaris tenggelam, dan berhasil diselamatkan oleh sahabatnya. Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuah batu; HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU.Orang yang menolong dan menampar sahabatnya bertanya, "Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya diatas pasir, dan sekarang kamu menulis di batu?" Temannya sambil tersenyum menjawab, "Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya diatas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan bila sesuatu yang luar biasa terjadi, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar tidak bisa hilang tertiup angin." Dalam hidup ini sering timbul beda pendapat dan konflik dengan suami /isteri, kekasih, adik / kakak, karena sudut pandang yang berbeda.
Oleh karenanya cobalah untuk saling memaafkan dan lupakan masalah lalu. Manfaat positif dari continuous relationship mungkin sekali jauh lebih besar ketimbang kekecewaan masa lalu.
Nobody's perfect.
Friday, July 14, 2006
99% kemarahan dalam diri kita diluapkan pada orang yang kita sayangi
Percaya atau tidak, namun kenyataannya terjadi dalam kehidupan kita. Berdasarkan hasil riset menunjukkan bahwa sebanyak 99% kemarahan yang ada dalam diri kita, selalu diluapkan kepada orang yang kita sayangi.hal ini bisa saja disebut normal, karena berbagai alasan. seperti misalnya sudah tidak ada lagi rasa canggung untuk mengungkapkan perasaan pada orang yang kita sayangi, atau bahkan dengan alasan kita sudah tidak lagi bertopeng dihadapannya.
terkadang, alasan-alasan tersebut membuat kita lupa bahwa hal tersebut bisa melukai perasaan mereka, karena emosi yang sudah meluap, maka kita akan menganggap wajar ia bisa menerima sifat kita yang sebenarnya. Luapan kemarahan, kemudian berujung pada kata-kata kasar, cacian, dan hinaan terlontar dengan mudah dari mulut kita. Tak peduli siapa yang salah, yang penting emosi tersalurkan.
Ada sebuah tulisan yang menyadarkan saya tentang kata-kata kasar yang mungkin sering saya lontarkan pada mereka-mereka yang saya sayangi.
Cerita ini dialami oleh seorang ibu. Rosa namanya. Ia bercerita begini:
Saya menabrak seorang yang tidak dikenal di jalan. "Oh, maafkan saya" adalah reaksi saya.
Ia berkata, "Maafkan saya juga; Saya tidak melihat Anda." Orang tidak dikenal itu, juga saya, berlaku sangat sopan. Akhirnya kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal.
Namun cerita lainnya terjadi di rumah, Pada hari itu juga, saat saya tengah memasak makan malam, anak lelaki saya berdiri diam-diam di samping saya. Ketika saya berbalik, hampir saja saya membuatnya jatuh. "Minggir," kata saya dengan marah. Ia pergi, ia terlihat kecewa.
Saya tidak menyadari betapa kasarnya kata-kata saya kepadanya.
Ketika saya berbaring di tempat tidur, sekilas terdengar sebuah bisikan yang berbicara pada saya, "Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, etika kesopanan kamu gunakan, tetapi anak-anak yang engkau kasihi, sepertinya engkau perlakukan dengan sewenang-wenang. Coba lihat ke lantai dapur, engkau akan menemukan beberapa kuntum bunga dekat pintu. "Bunga-bunga tersebut telah dipetik sendiri oleh anakmu; merah muda, kuning dan biru. Anakmu berdiri tanpa suara supaya tidak menggagalkan kejutan yang akan ia buat bagimu, dan kamu bahkan tidak melihat matanya yang basah saat itu."
Seketika aku merasa malu, dan sekarang air mataku mulai menetes. Saya pelan-pelan pergi ke kamar anak saya dan berlutut di dekat tempat tidurnya, "Bangun, nak, bangun," kataku. "Apakah bunga-bunga ini engkau petik untuk ibu?" Ia tersenyum, " Aku menemukannya jatuh dari pohon. ".
"Aku mengambil bunga-bunga ini karena mereka cantik seperti Ibu. Aku tahu Ibu akan menyukainya, terutama yang berwarna biru." Aku berkata, "Anakku, Ibu sangat menyesal karena telah kasar padamu; Ibu seharusnya tidak membentakmu seperti tadi."
Si kecilku berkata, "Oh, Ibu, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu." Aku pun membalas, "Anakku, aku mencintaimu juga, dan aku benar-benar menyukai bunga-bunga ini, apalagi yang biru."
Apakah anda menyadari bahwa jika kita mati besok, perusahaan di mana kita bekerja sekarang bisa saja, dengan mudahnya mencari pengganti kita dalam hitungan hari? orang ditengah jalan yang telah kita perlakukan dengan sangat sopan, akan dengan cepat melupakan kita setelah pertemuan sejenak itu? Akan tetapi orang-orang yang kita sayangi, yang kita tinggalkan akan merasakan kehilangan selama sisa hidup mereka?
Jika sampai hari ini Anda masih melontarkan kata-kata kasar pada orang-orang terkasih Anda, mulailah menyadari bahwa saat ia diam dalam kemarahan Anda, itu karena besarnya perasaan sayangnya pada diri Anda.
Wednesday, July 12, 2006
Thursday, July 06, 2006
Notebook : really romantic film that i ever seen
Pemain : Ryan Gosling, Rachel McAdams, James Garner, Gena Rowlands, James Marsden, Kevin Connolly, Sam Shepard, dan Joan Allen. Cinta bisa bersemi dimana saja, kapan saja dan pada siapa saja. Cinta tak kenal waktu, tempat, dan cintapun tak kenal golongan. Ia hadir dalam hati siapapun dan terkadang memaksa masuk meski dihindari. Dan saat cinta itu hadir bahkan kematian lah yang akhirnya bisa memisahkan mereka. Tema inilah yang ingin diangkat dalam film Notebook garapan Nick Cassavetes Notebook. Dalam film yang berlatar belakang kehidupan di tahun 1940-an ini, Cassavete berupaya mengadaptasi dari novel terlaris karya Nicholas Spark.
Cerita berawal dari liburan musim panas Allison Hamilton (Rachel McAdams) ke sebuah kota kecil di Seabrook. Dalam liburannya tersebut, Allie bertemu dengan Noah Calhoun (Ryan Gosling) yang bekerja disebuah pabrik pertukangan yang jatuh cinta padanya. Allie yang awalnya tidak menyukai sikap Noah akhirnya menjadi cinta setengah mati padanya dan merekapun mulai menjalin hubungan yang serius. Namun hubungan itu mendapatkan halangan dari orang tua Allie yang menganggap status Noah tidak sesuai dengan derajat keluarga mereka.
Akhirnya mereka harus berpisah dengan pertengkaran saat liburan musim panas yang belum selesai namun Allie dipaksa pulang oleh kedua orang tuanya. Noah yang masih sangat mencintai Allie terus mengirimkan surat pada Allie setiap harinya, namun surat tersebut tidak pernah sampai ketangan Allie karena selalu disembunyikan oleh ibu Allie.
Akhirnya merekapun menjalani kehidupan masing-masing, Noah pergi menjalani wajib militer, sementara Allie yang menjaid sukarelawan dibarak tentara mulai jatuh cinta pada Lon Hammond (James Garner) hingga ia memutuskan untuk berubah.
Dihari terakhir masa lajangnya, Allie melihat photo Noah didepan rumah yang selama ini menjadi impian mereka berdua. Seketika iapun pingsan dan mulai merasa ragu dnegan pernikahannya tersebut. Akhirnya Allie memutuskan untuk kembali ke Seabrook untuk menemui Noah, akhirnya kisah cintapun kembali bersemi.
Allie yang dihadapkan pada kenyataan yang besar dimana harus memilih diantara dua pria yang dicintainya, akhirnya kembali pada pelukan Noah yang selama ini selalu dicintainya. Dan Lon akhirnya menerima keputusan tersebut dengan berat hati, karena pada dasarnya ia memang sangat mencintai Allie.
Pernikahan mereka berjalan bahagia dan merekapun dikaruniai keluarga yang bahagia. Namun diusianya yang menjelang tua, Allie terserang penyakit yang membuatnya lupa akan segalanya, dan bahkan ia sama sekali tidak mengingat keluarganya. Noah dengan rasa cintanya selalu berusaha mendampingi Allie meskipun Allie tidak mengenalinya, dan saat anak-anak mereka merasa menyerah dengan kondisi ibunya.
Untuk kembali mengingatkan Allie akan dirinya, Noah selalu membacakan buku catatan yang dituli mereka berdua tentang perjalan dan kisah cinta yang mereka lalui selama ini. Terkadang Allie kembali mengingat segalanya saat Noah membacakan buku catatan tersebut, namun akhirnya ia kembali pada kepikunannya itu. Diakhir cerita, Noah yang terkena serangan jantung masih berusaha untuk mendampingi istrinya tersebut, saat ia menghampiri kamar Allie yang mengenalinya, mereka sama-sama merasa sedih dan bahagia bersama. Disaat terakhir mereka berharap cinta bisa membuat mereka menerima kematian dengan bersamaan. Tak lama kemudian, suster yang ingin memeriksa keadaan Allie menemukan tubuh Noah dan Allie yang sedang berpegangan tangan sudah tidak lagi bernyawa.
Film drama romantis ini menyajikan betapa kekuatan cinta bisa membuat orang berbuat apa saja demi orang yang dicintainya. Dan pepatah yang mengatakan bahwa hanya kematian yang bisa memisahkan sepasang kekasih yang dilanda cinta adalah hal yang sangat mungkin terjadi.
Thursday, June 15, 2006
time is over
"kalau memang dunia tak cukup untuk kita berdua, biarlah aku yang mengalah meninggalkannya. ini bukan rasa suka, ini bukan cinta, namun inilah rasa sayangku, hingga aku rela untuk kehilangan"
Subscribe to:
Posts (Atom)
Eks Goal
